Pengendalian Extra-Ordinary Crime Generasi Muda Secara Peer Education
- Details
- Hits: 42
Extra-Ordinary Crime (EOC) tidak dapat dipahami semata-mata sebagai kategori hukum atau daftar pelanggaran pidana. Dalam konteks generasi muda, EOC adalah gejala sosial yang mencerminkan kegagalan kolektif dalam menyediakan ruang pembelajaran nilai, makna, dan orientasi hidup. Kejahatan luar biasa yang menyentuh narkoba, korupsi, dan paham radikal tumbuh bukan dalam ruang hampa, melainkan di tengah proses pencarian identitas, tekanan sosial, dan ketidakpastian masa depan yang dialami remaja.
Ketika generasi muda terlibat atau rentan terhadap EOC, yang sesungguhnya terjadi bukan sekadar pelanggaran norma, melainkan krisis pemaknaan. Remaja berada pada fase di mana nilai belum sepenuhnya mapan, sementara pengaruh lingkungan—baik keluarga, sekolah, teman sebaya, maupun ruang digital—beroperasi secara simultan dan sering kali kontradiktif. Dalam situasi ini, pendekatan yang hanya menekankan larangan dan hukuman cenderung gagal menyentuh akar persoalan.
Pendekatan represif terhadap EOC generasi muda sering kali menghasilkan paradoks. Alih-alih mencegah, ia justru menciptakan rasa takut, stigma, dan jarak sosial. Generasi muda diposisikan sebagai objek pengawasan, bukan sebagai subjek pembelajaran. Akibatnya, perilaku berisiko tidak hilang, melainkan berpindah ke ruang yang lebih tersembunyi dan sulit dijangkau oleh intervensi kebijakan.
Potret dan Pemetaan Relasi Personal-Sosial-Institusional Atas Pola Peningkatan Tugas Pokok, Fungsi, dan Peran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riset Publik Terapan
- Details
- Hits: 11
Kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam wacana publik sering kali dipahami secara sempit sebagai capaian formal lembaga. jumlah produk legislasi, intensitas rapat, atau kepatuhan terhadap prosedur administrasi/ _ara pandang ini cenderung menempatkan DPRD sebagai entitas teknokratis yang berdiri sendiri, terpisah dari relasi sosial dan politik yang melahirkannya/ Padahal, sebagai lembaga perwakilan, DPRD adalah manifestasi konkret dari demokrasi lokal yang hidup, dengan segala ketegangan, harapan, dan keterbatasannya.
Dalam demokrasi perwakilan, kinerja tidak pernah bersifat netral atau murni institusional/ Ia selalu lahir dari interaksi antara mandat formal dan realitas sosial/ Anggota DPRD menjalankan tugasnya di tengah tekanan konstituen, dinamika partai politik, relasi dengan pemerintah daerah, serta ekspektasi publik yang sering kali saling bertentangan/ Oleh karena itu, memahami kinerja DPRD tanpa membaca relasi-relasi tersebut berarti mengabaikan konteks utama yang membentuk cara lembaga ini bekerja...
Page 2 of 2