Akademi Riset Publik Wellbeing Indonesia
  • Beranda
  • Profil
  • Kurikulum
  • Modul
  • Buku Saku
    • Angka, Dinamika dan Suara
  • Hasil Riset
  • Ide dan Pemikiran
  • Galeri
  • Blogs

Latar Belakang

Details
Hits: 68

Riset publik berbasis wellbeing telah menjadi fondasi penting bagi pengukuran sosial di lingkungan Kementerian Dalam Negeri, khususnya setelah pendekatan ini digunakan pada tiga objek kajian strategis, yaitu: (1) Indeks Harmoni Indonesia (IHaI), (2) Indeks Kinerja Ormas (IKO) Self-Assessment, dan (3) Indeks Kewaspadaan Nasional (IKN). Ketiga instrumen tersebut menunjukkan bahwa metodologi wellbeing mampu memetakan dinamika sosial secara lebih komprehensif, menggabungkan dimensi persepsi, partisipasi, dan akseptabilitas dalam satu kerangka analitik yang terstandardisasi. Pengalaman ini memberikan bukti empirik bahwa riset publik wellbeing relevan, adaptif, dan dapat mendukung pengambilan kebijakan berbasis data. 


Keberhasilan tiga indeks tersebut mendorong Kemendagri menjadikan riset publik wellbeing sebagai kewajiban (mandatory) bagi pemerintah daerah tingkat provinsi serta kabupaten/kota. Implementasi mandatori ini bertujuan agar setiap pemda memiliki landasan analitik yang sama dalam menilai kualitas sosial, kinerja organisasi kemasyarakatan, serta dinamika harmoni dan kewaspadaan sosial di wilayahnya. Dengan demikian, pendekatan wellbeing tidak hanya diposisikan sebagai teknik riset, tetapi juga sebagai instrumen tata kelola yang memastikan bahwa perencanaan pembangunan didukung oleh data publik yang valid, reliabel, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. 
Namun, perluasan mandatori ini sekaligus menciptakan kebutuhan besar akan sumber daya manusia yang kompeten, khususnya dalam hal penguasaan metodologi riset publik wellbeing, interpretasi data PPA/IKO, penggunaan standar triangulasi dan validasi, serta penerapan instrumen analitik berbasis persepsi dan partisipasi warga. Karena setiap pemda harus melaksanakan pengukuran secara reguler, maka kapasitas SDM menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi. Tanpa pembekalan dan pendidikan yang terstruktur, kualitas data dapat bervariasi, dan konsistensi nasional akan sulit dicapai. 


Melihat perkembangan ini, dapat diperkirakan bahwa pendekatan riset publik wellbeing akan terus berkembang ke berbagai topik lain, seperti pelayanan publik, kohesi sosial, indeks pelayanan ormas, kesejahteraan keluarga, pemberdayaan masyarakat, maupun dinamika demokrasi lokal. Pertumbuhan cakupan ini memerlukan sebuah institusi yang secara khusus mengelola pengembangan kompetensi, standarisasi metodologi, dan penyiapan tenaga peneliti yang profesional. Oleh karena itu, Akademi Riset Publik Wellbeing dibentuk sebagai sarana strategis untuk mengembangkan kapasitas SDM secara nasional, memastikan kualitas riset terjaga, dan mendukung integrasi analitik wellbeing dalam kebijakan publik di seluruh Indonesia

Sasaran Kinerja Utama

Details
Hits: 74

Sasaran kinerja utama Akademi Riset Publik Wellbeing dirancang untuk memastikan bahwa seluruh program dan aktivitas akademi menghasilkan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas riset publik di Indonesia. KPI pertama berfokus pada standarisasi metodologi, yaitu tercapainya penerapan instrumen PPA/IKO/Wellbeing secara konsisten di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Keberhasilan ini diukur melalui jumlah daerah yang mampu melaksanakan pengukuran secara mandatori, kualitas data yang memenuhi standar validitas, serta tingkat keseragaman interpretasi hasil riset antar wilayah. Dengan KPI ini, akademi memastikan bahwa riset publik berjalan sesuai kaidah ilmiah dan mendukung kebijakan berbasis data. 


KPI berikutnya berkaitan dengan penguatan kapasitas SDM. Akademi menetapkan target jumlah aparatur pemerintah daerah, tenaga pengajar, dan mitra organisasi masyarakat yang tersertifikasi dalam metodologi wellbeing, termasuk kemampuan analisis PPA/IKO, pemanfaatan sistem digital, dan penerapan etika riset. Indikator keberhasilan mencakup peningkatan kompetensi peserta, kemampuan daerah melakukan analisis mandiri, serta terbentuknya talent pipeline nasional yang mendukung keberlanjutan riset publik. KPI ini memastikan bahwa SDM nasional berkembang secara merata dan siap menghadapi tuntutan riset yang terus berevolusi. 


Selain itu, akademi menargetkan penguatan infrastruktur digital riset sebagai KPI strategis. Target mencakup pengembangan dan implementasi platform digital terintegrasi untuk pengumpulan data, dashboard analitik, repositori pengetahuan, serta sistem pelaporan otomatis yang mengikuti standar SMART–EETAK–KAA. Keberhasilan KPI ini diukur melalui tingkat adopsi platform oleh daerah, kecepatan pemrosesan data, reliabilitas sistem, serta kepuasan pengguna. Infrastruktur digital yang kuat akan meningkatkan efisiensi operasional, meminimalkan kesalahan teknis, dan mempercepat pengambilan keputusan berdasarkan data real-time. 


KPI terakhir terkait dengan dampak riset terhadap kebijakan publik dan kehidupan masyarakat. Akademi menilai keberhasilan melalui jumlah rekomendasi kebijakan yang diadopsi pemerintah, peningkatan harmoni sosial yang tercermin dalam IHaI, peningkatan kinerja organisasi kemasyarakatan melalui IKO, serta peningkatan kewaspadaan sosial berdasarkan IKN. Selain indikator kuantitatif, aspek kualitatif seperti penerimaan masyarakat terhadap proses riset, peningkatan partisipasi warga, dan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah juga menjadi ukuran penting. Melalui KPI ini, akademi memastikan bahwa riset yang dilakukan tidak hanya menghasilkan data, tetapi memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan dan ketahanan sosial Indonesia. 

Susunan Pengurus

Details
Hits: 149

Presiden Direktur : Dr. Ir. Jadi Suryadi

  1. Direktur Infrastruktur dan Operasional : Yatno, S.Kom, MM
  2. Direktur Kurikulum dan Pembelajaran : Prof. Dr. Ir. Ayub Muktiono, M.Si., M.SIP., CiQaR 
  3. Direktur Penerapan dan Inovasi Riset Publik :  Prof. Dr. R. Sihadi Darmo Wihardjo, MA., M.Pd
  4. Direktur Pengembangan Riset dan Kerjasama : Prof. Dr. Muhammad Said, M.Ag 

Tujuan dan Sasaran

Details
Hits: 65

Tujuan Jangka Pendek, Menengah, Panjang
A. Tujuan Jangka Pendek (1–2 Tahun)  

  1. Membangun kurikulum dasar Wellbeing Method (WM) yang mencakup pengantar riset publik, PPA/IKO, teknik pengumpulan data, serta standar etika riset.
  2. Menyusun dan menetapkan standar nasional instrumen riset wellbeing, termasuk pedoman pelaksanaan IHaI, IKO, dan IKN untuk provinsi dan kabupaten/kota.
  3. Melatih SDM pemerintah daerah tahap pertama, fokus pada operator, enumerator, dan analis dasar agar mampu menjalankan pengukuran mandatori berbasis SMART dan EETAK.
  4. Mengembangkan sistem digital versi awal untuk pengelolaan data, pelaporan otomatis, dan akses pembelajaran daring bagi seluruh peserta akademi.
  5. Merekrut dan menyiapkan tenaga pengajar awal, termasuk penyusunan modul, SOP pengajaran, dan kapasitas metodologi wellbeing.
  6. Membangun tata kelola kelembagaan dasar Akademi, mencakup kode etik, sistem penjaminan mutu, dan kerangka evaluasi program.  

 

B. Tujuan Jangka Menengah (3–5 Tahun)  

  1. Mengembangkan kurikulum lanjutan dan peminatan, seperti analitik sosialhumaniora, big data, kebijakan publik, dan riset berbasis AI.
  2. Membangun sistem digital pengukuran terintegrasi nasional, mencakup dashboard interaktif, prediksi risiko sosial, dan repositori data wellbeing.
  3. Melakukan sertifikasi profesional peneliti publik wellbeing, baik untuk aparatur daerah maupun mitra organisasi masyarakat.
  4. Mengembangkan pusat kolaborasi riset multisektor, melibatkan universitas, pemerintah daerah, lembaga riset, dan komunitas lokal.
  5. Melakukan riset tematik besar secara rutin, misalnya kohesi sosial, partisipasi warga, transformasi digital daerah, dan dinamika ormas.
  6. Membangun jejaring alumni dan talent pipeline nasional, sehingga daerah memiliki pasokan SDM analis sosial dan riset yang kompeten.  

 

C. Tujuan Jangka Panjang (5–10 Tahun)  

  1. Menjadikan Akademi sebagai Center of Excellence nasional dalam riset publik wellbeing, pengukuran sosial, dan inovasi kebijakan berbasis data.
  2. Mengembangkan model-model indeks baru untuk isu strategis nasional, seperti kesejahteraan keluarga, kewargaan digital, kepercayaan publik, harmoni sosial, dan ketahanan komunitas.
  3. Menjadi rujukan internasional dalam metodologi riset wellbeing, terutama untuk negara-negara dengan konteks sosial yang serupa.
  4. Membangun ekosistem riset publik berkelanjutan, ditopang oleh SDM daerah yang mapan, sistem digital yang stabil, dan jejaring kolaborasi lintas disiplin.
  5. Mempengaruhi kebijakan nasional secara sistemik, melalui penyediaan evidensi berkualitas tinggi untuk desain kebijakan, evaluasi pembangunan, dan mitigasi risiko sosial.
  6. Menumbuhkan budaya riset sosial yang melembaga, sehingga riset tidak hanya dilakukan karena mandatori, tetapi menjadi kebutuhan permanen dalam tata kelola pemerintahan dan kehidupan masyarakat.

Visi dan Misi

Details
Hits: 63

Visi Akademi Riset Publik Wellbeing dibangun atas keyakinan bahwa riset publik adalah fondasi bagi pembangunan yang manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan. Akademi memandang bahwa kualitas kebijakan publik hanya dapat ditingkatkan apabila proses pengambilan keputusan didukung oleh pengetahuan yang akurat, representatif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Karena itu, visi akademi adalah menjadi pusat keunggulan nasional dalam pendidikan, penelitian, dan inovasi riset publik berbasis wellbeing, yang menghasilkan pengetahuan dan sumber daya manusia unggul untuk memperkuat ekosistem kebijakan berbasis data di Indonesia. 

Misi akademi diarahkan untuk mewujudkan visi tersebut melalui empat pendekatan strategis.

  1. Mengembangkan kurikulum dan metodologi riset yang terstandardisasi, khususnya pendekatan PPA/IKO/Wellbeing yang selama ini telah digunakan dalam sejumlah instrumen nasional seperti IHaI, IKO, dan IKN.
  2. Memperkuat kapasitas SDM pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota melalui program pelatihan, sertifikasi, dan pengembangan kompetensi yang selaras dengan kebutuhan mandatori riset publik.
  3. Membangun sistem digital pengukuran dan analitik yang efisien, efektif, transparan, akuntabel, dan kredibel sebagai bagian dari transformasi riset publik modern. Keempat, membangun ekosistem kolaboratif yang melibatkan akademisi, masyarakat sipil, pemerintah, dan pemangku kepentingan lain untuk memperkuat budaya pengetahuan yang inklusif. 


Selain misi tersebut, akademi juga berperan untuk memperkuat nilai-nilai dasar riset publik: integritas ilmiah, partisipasi masyarakat, kolaborasi multisektor, dan inovasi berkelanjutan.  Misi ini diwujudkan dalam setiap aspek operasional akademi, mulai dari penyusunan kurikulum, perekrutan tenaga pengajar, pelaksanaan riset lapangan, hingga mekanisme publikasi dan diseminasi hasil kajian. Dengan demikian, akademi tidak hanya menjadi lembaga pelatihan, tetapi juga pusat pembentukan etos riset yang menghargai pengetahuan sebagai alat transformasi sosial. 


Tujuan strategis akademi mencakup berbagai dimensi yang mendukung pembangunan pengetahuan nasional. Tujuan pertama adalah menghasilkan lulusan yang kompeten dalam metodologi riset publik, analitik data sosial, serta pemanfaatan teknologi digital untuk pengukuran wellbeing. Tujuan kedua adalah membangun standardisasi nasional dalam riset publik, sehingga setiap instrumen yang digunakan oleh pemerintah daerah memiliki kualitas metodologis yang setara dan dapat dibandingkan. Tujuan ketiga adalah melahirkan inovasi kebijakan berbasis data, di mana hasil riset wellbeing dapat digunakan sebagai dasar perencanaan, evaluasi, dan pengambilan keputusan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. 


Tujuan strategis lainnya adalah memperkuat fungsi akademi sebagai pusat produksi pengetahuan yang berkelanjutan. Akademi diharapkan menjadi tempat berkembangnya risetriset baru di bidang sosial-humaniora, termasuk isu kohesi sosial, pemberdayaan masyarakat, transformasi digital, ketahanan budaya, dan tata kelola pemerintahan. Melalui kerangka Wellbeing Method, akademi dapat memperluas cakupan riset dan membuka ruang bagi lahirnya indikator-indikator baru yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan demikian, akademi tidak hanya melanjutkan tradisi riset yang telah ada, tetapi juga mendorong inovasi yang berdampak luas. 
Pada akhirnya, visi, misi, dan tujuan strategis akademi menjadi peta jalan bagi penguatan ekosistem riset publik di Indonesia. Dengan menempatkan wellbeing sebagai orientasi utama, akademi memastikan bahwa setiap aktivitas pendidikan dan penelitian diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Upaya ini sekaligus memperkuat kolaborasi pusatdaerah, mempercepat transformasi digital riset sosial, dan mempersiapkan Indonesia untuk memiliki sistem pengetahuan publik yang tangguh, modern, dan mampu mengantisipasi berbagai tantangan sosial di masa depan. 


Visi Akademi Riset Publik Wellbeing 
Visi Akademi Riset Publik Wellbeing adalah: Menjadi pusat keunggulan nasional dalam pendidikan, penelitian, dan inovasi riset publik berbasis wellbeing yang mampu memperkuat ekosistem pengetahuan dan mendukung pengambilan kebijakan publik yang manusiawi, inklusif, dan berbasis data.  Visi ini menempatkan akademi sebagai lembaga strategis yang tidak hanya menghasilkan peneliti terampil, tetapi juga memajukan metodologi riset sosial-humaniora yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional. 
Visi tersebut dibangun atas keyakinan bahwa kesejahteraan masyarakat adalah tujuan utama pembangunan, dan riset publik harus mampu menangkap pengalaman sosial warga secara komprehensif melalui pendekatan persepsi, partisipasi, dan akseptabilitas. Dengan menjadikan wellbeing sebagai orientasi inti, akademi berkomitmen menciptakan sistem riset yang lebih sensitif terhadap dinamika sosial, mampu mendeteksi potensi risiko, serta menghasilkan rekomendasi kebijakan yang efektif dan tepat sasaran. Riset bukan hanya kegiatan administratif, tetapi instrumen transformasi sosial. 


Melalui visi ini, Akademi Riset Publik Wellbeing juga diarahkan untuk memainkan peran utama dalam membangun ekosistem pengetahuan yang kolaboratif antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, masyarakat, dan lembaga non-pemerintah. Akademi diharapkan menjadi motor penggerak inovasi riset, pengembangan SDM daerah, dan standardisasi metodologi nasional dalam rangka memperkuat tata kelola pembangunan berbasis evidensi. Dengan demikian, visi akademi menjadi fondasi bagi upaya menciptakan Indonesia yang lebih harmonis, berdaya, dan sejahtera melalui riset publik yang bermakna. 


Misi Utama Pengembangan Institusi  

  1. Mengembangkan kurikulum riset publik berbasis wellbeing yang terstandardisasi secara nasional, mencakup metodologi PPA-Indeks DMM-Indeks DyMM-DUSK, analitik sosial-humaniora, pendekatan multi–trans-disiplin, serta integrasi teknologi digital dan AI untuk memastikan kualitas pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. 
  2. Meningkatkan kapasitas SDM pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota melalui program pelatihan, sertifikasi, dan pendampingan teknis agar mampu melaksanakan riset publik wellbeing secara mandatori dengan standar metodologis yang seragam dan dapat dipertanggungjawabkan. 
  3. Membangun ekosistem riset yang kolaboratif dan inklusif, dengan melibatkan akademisi, organisasi kemasyarakatan, komunitas lokal, dan masyarakat sebagai objek sekaligus subjek pengetahuan, untuk memperkaya data, memperluas perspektif, dan meningkatkan legitimasi hasil riset. 
  4. Mengembangkan infrastruktur dan sistem digital pengukuran yang efisien, efektif, transparan, akuntabel, dan kredibel (EETAK) berbasis prinsip SMART dan tata kelola KAA, sehingga proses pengumpulan data, analisis, dan pelaporan dapat dilakukan secara modern, cepat, dan terintegrasi. 
  5. Mendorong inovasi kebijakan berbasis evidensi, dengan memastikan bahwa setiap hasil riset wellbeing menghasilkan insight strategis, rekomendasi aplikatif, dan peta risiko-sosial yang dapat digunakan pemerintah untuk membuat keputusan yang lebih manusiawi, responsif, dan berorientasi setara pada kesejahteraan publik. 
  6. Membangun budaya etika riset dan integritas ilmiah, melalui penegakan kode etik akademi, perlindungan data responden, praktik non-manipulasi informasi, serta komitmen terhadap keadilan sosial, sehingga akademi menjadi institusi tepercaya dalam produksi pengetahuan publik di Indonesia. 
  • Latar Belakang

    Riset publik berbasis wellbeing telah menjadi fondasi penting bagi pengukuran sosial di lingkungan Kementerian Dalam Negeri, khususnya setelah pendekatan ini digunakan pada tiga objek kajian strategis, yaitu: (1) Indeks Harmoni Indonesia (IHaI), (2) Indeks Kinerja Ormas (IKO) Self-Assessment, dan (3) Indeks Kewaspadaan Nasional (IKN). Ketiga instrumen tersebut menunjukkan bahwa metodologi wellbeing mampu memetakan dinamika sosial secara lebih komprehensif, menggabungkan dimensi persepsi, partisipasi, dan akseptabilitas dalam satu kerangka analitik yang terstandardisasi. Pengalaman ini memberikan bukti empirik bahwa riset publik wellbeing relevan, adaptif, dan dapat mendukung pengambilan kebijakan berbasis data. 


    Keberhasilan tiga indeks tersebut mendorong Kemendagri menjadikan riset publik wellbeing sebagai kewajiban (mandatory) bagi pemerintah daerah tingkat provinsi serta kabupaten/kota. Implementasi mandatori ini bertujuan agar setiap pemda memiliki landasan analitik yang sama dalam menilai kualitas sosial, kinerja organisasi kemasyarakatan, serta dinamika harmoni dan kewaspadaan sosial di wilayahnya. Dengan demikian, pendekatan wellbeing tidak hanya diposisikan sebagai teknik riset, tetapi juga sebagai instrumen tata kelola yang memastikan bahwa perencanaan pembangunan didukung oleh data publik yang valid, reliabel, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. 
    Namun, perluasan mandatori ini sekaligus menciptakan kebutuhan besar akan sumber daya manusia yang kompeten, khususnya dalam hal penguasaan metodologi riset publik wellbeing, interpretasi data PPA/IKO, penggunaan standar triangulasi dan validasi, serta penerapan instrumen analitik berbasis persepsi dan partisipasi warga. Karena setiap pemda harus melaksanakan pengukuran secara reguler, maka kapasitas SDM menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi. Tanpa pembekalan dan pendidikan yang terstruktur, kualitas data dapat bervariasi, dan konsistensi nasional akan sulit dicapai. 


    Melihat perkembangan ini, dapat diperkirakan bahwa pendekatan riset publik wellbeing akan terus berkembang ke berbagai topik lain, seperti pelayanan publik, kohesi sosial, indeks pelayanan ormas, kesejahteraan keluarga, pemberdayaan masyarakat, maupun dinamika demokrasi lokal. Pertumbuhan cakupan ini memerlukan sebuah institusi yang secara khusus mengelola pengembangan kompetensi, standarisasi metodologi, dan penyiapan tenaga peneliti yang profesional. Oleh karena itu, Akademi Riset Publik Wellbeing dibentuk sebagai sarana strategis untuk mengembangkan kapasitas SDM secara nasional, memastikan kualitas riset terjaga, dan mendukung integrasi analitik wellbeing dalam kebijakan publik di seluruh Indonesia

    Read more: Latar Belakang

  • Sasaran Kinerja Utama

    Sasaran kinerja utama Akademi Riset Publik Wellbeing dirancang untuk memastikan bahwa seluruh program dan aktivitas akademi menghasilkan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas riset publik di Indonesia. KPI pertama berfokus pada standarisasi metodologi, yaitu tercapainya penerapan instrumen PPA/IKO/Wellbeing secara konsisten di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Keberhasilan ini diukur melalui jumlah daerah yang mampu melaksanakan pengukuran secara mandatori, kualitas data yang memenuhi standar validitas, serta tingkat keseragaman interpretasi hasil riset antar wilayah. Dengan KPI ini, akademi memastikan bahwa riset publik berjalan sesuai kaidah ilmiah dan mendukung kebijakan berbasis data. 


    KPI berikutnya berkaitan dengan penguatan kapasitas SDM. Akademi menetapkan target jumlah aparatur pemerintah daerah, tenaga pengajar, dan mitra organisasi masyarakat yang tersertifikasi dalam metodologi wellbeing, termasuk kemampuan analisis PPA/IKO, pemanfaatan sistem digital, dan penerapan etika riset. Indikator keberhasilan mencakup peningkatan kompetensi peserta, kemampuan daerah melakukan analisis mandiri, serta terbentuknya talent pipeline nasional yang mendukung keberlanjutan riset publik. KPI ini memastikan bahwa SDM nasional berkembang secara merata dan siap menghadapi tuntutan riset yang terus berevolusi. 


    Selain itu, akademi menargetkan penguatan infrastruktur digital riset sebagai KPI strategis. Target mencakup pengembangan dan implementasi platform digital terintegrasi untuk pengumpulan data, dashboard analitik, repositori pengetahuan, serta sistem pelaporan otomatis yang mengikuti standar SMART–EETAK–KAA. Keberhasilan KPI ini diukur melalui tingkat adopsi platform oleh daerah, kecepatan pemrosesan data, reliabilitas sistem, serta kepuasan pengguna. Infrastruktur digital yang kuat akan meningkatkan efisiensi operasional, meminimalkan kesalahan teknis, dan mempercepat pengambilan keputusan berdasarkan data real-time. 


    KPI terakhir terkait dengan dampak riset terhadap kebijakan publik dan kehidupan masyarakat. Akademi menilai keberhasilan melalui jumlah rekomendasi kebijakan yang diadopsi pemerintah, peningkatan harmoni sosial yang tercermin dalam IHaI, peningkatan kinerja organisasi kemasyarakatan melalui IKO, serta peningkatan kewaspadaan sosial berdasarkan IKN. Selain indikator kuantitatif, aspek kualitatif seperti penerimaan masyarakat terhadap proses riset, peningkatan partisipasi warga, dan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah juga menjadi ukuran penting. Melalui KPI ini, akademi memastikan bahwa riset yang dilakukan tidak hanya menghasilkan data, tetapi memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan dan ketahanan sosial Indonesia. 

    Read more: Sasaran Kinerja Utama

  • Susunan Pengurus

    Presiden Direktur : Dr. Ir. Jadi Suryadi

    1. Direktur Infrastruktur dan Operasional : Yatno, S.Kom, MM
    2. Direktur Kurikulum dan Pembelajaran : Prof. Dr. Ir. Ayub Muktiono, M.Si., M.SIP., CiQaR 
    3. Direktur Penerapan dan Inovasi Riset Publik :  Prof. Dr. R. Sihadi Darmo Wihardjo, MA., M.Pd
    4. Direktur Pengembangan Riset dan Kerjasama : Prof. Dr. Muhammad Said, M.Ag 

    Read more: Susunan Pengurus

Profil

  • Latar Belakang
  • Tujuan dan Sasaran
  • Visi dan Misi
  • Sasaran Kinerja Utama
  • Susunan Pengurus
  • Prakata

Riset Publik

  • Proposal Riset Publik
  • Riset Publik Regular
  • Riset Publik Non-Regular

Buku Saku

  • Buku Saku: Penguatan IDI melalui Pendekatan Riset Publik dan Literasi Demokrasi Daerah
My Blog
Copyright © 2026 Akademi Riset Publik Wellbeing Indonesia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.