Tujuan Jangka Pendek, Menengah, Panjang
A. Tujuan Jangka Pendek (1–2 Tahun)
- Membangun kurikulum dasar Wellbeing Method (WM) yang mencakup pengantar riset publik, PPA/IKO, teknik pengumpulan data, serta standar etika riset.
- Menyusun dan menetapkan standar nasional instrumen riset wellbeing, termasuk pedoman pelaksanaan IHaI, IKO, dan IKN untuk provinsi dan kabupaten/kota.
- Melatih SDM pemerintah daerah tahap pertama, fokus pada operator, enumerator, dan analis dasar agar mampu menjalankan pengukuran mandatori berbasis SMART dan EETAK.
- Mengembangkan sistem digital versi awal untuk pengelolaan data, pelaporan otomatis, dan akses pembelajaran daring bagi seluruh peserta akademi.
- Merekrut dan menyiapkan tenaga pengajar awal, termasuk penyusunan modul, SOP pengajaran, dan kapasitas metodologi wellbeing.
- Membangun tata kelola kelembagaan dasar Akademi, mencakup kode etik, sistem penjaminan mutu, dan kerangka evaluasi program.
B. Tujuan Jangka Menengah (3–5 Tahun)
- Mengembangkan kurikulum lanjutan dan peminatan, seperti analitik sosialhumaniora, big data, kebijakan publik, dan riset berbasis AI.
- Membangun sistem digital pengukuran terintegrasi nasional, mencakup dashboard interaktif, prediksi risiko sosial, dan repositori data wellbeing.
- Melakukan sertifikasi profesional peneliti publik wellbeing, baik untuk aparatur daerah maupun mitra organisasi masyarakat.
- Mengembangkan pusat kolaborasi riset multisektor, melibatkan universitas, pemerintah daerah, lembaga riset, dan komunitas lokal.
- Melakukan riset tematik besar secara rutin, misalnya kohesi sosial, partisipasi warga, transformasi digital daerah, dan dinamika ormas.
- Membangun jejaring alumni dan talent pipeline nasional, sehingga daerah memiliki pasokan SDM analis sosial dan riset yang kompeten.
C. Tujuan Jangka Panjang (5–10 Tahun)
- Menjadikan Akademi sebagai Center of Excellence nasional dalam riset publik wellbeing, pengukuran sosial, dan inovasi kebijakan berbasis data.
- Mengembangkan model-model indeks baru untuk isu strategis nasional, seperti kesejahteraan keluarga, kewargaan digital, kepercayaan publik, harmoni sosial, dan ketahanan komunitas.
- Menjadi rujukan internasional dalam metodologi riset wellbeing, terutama untuk negara-negara dengan konteks sosial yang serupa.
- Membangun ekosistem riset publik berkelanjutan, ditopang oleh SDM daerah yang mapan, sistem digital yang stabil, dan jejaring kolaborasi lintas disiplin.
- Mempengaruhi kebijakan nasional secara sistemik, melalui penyediaan evidensi berkualitas tinggi untuk desain kebijakan, evaluasi pembangunan, dan mitigasi risiko sosial.
- Menumbuhkan budaya riset sosial yang melembaga, sehingga riset tidak hanya dilakukan karena mandatori, tetapi menjadi kebutuhan permanen dalam tata kelola pemerintahan dan kehidupan masyarakat.